«

Jun 23

menyusuri setapak

Menyusuri Setapak
Oleh: Retno Jamilurrohman (retno.jamilurrohman@gmail.com)

Hari ini adalah hari terakhirku di New York. Telah kuselesaikan masa studiku untuk menempuh masterku di kota yang paling ramai di dunia. Campur aduk perasaan ada di hati. Sangat bersyukur bisa belajar di kota ini. Rasanya seperti bermimpi. Aku si anak kampung dari Yogya tenggara bisa menyelesaikan master di kota yang ada patung Liberty-nya. Kota yang sejak SD dulu hanya ada di peta dunia dan pikiranku. Lega dan senang bisa pulang. Mungkin itu perasaan kedua dan ketiga yang tercampur. Kubayangkan, aku akan bisa kembali menyusuri jalan-jalan di kampus sekitar Bulaksumur dan Karangmalang. Membeli makanan dan minuman di sekitar jalan itu dengan harga yang sangat murah. Berbeda jauh dengan harga makanan atau barang-barang di sekitar Times Square.
Barang-barangku sudah kukemas. Lama rasanya menunggu sore untuk segera ke bandara Jhon F. Kennedy. Gerimis menyambutku ketika aku keluar dari apartemen. Angin berhembus. Dingin, menusuk tulang . Aku keluar dari apartemenku, menyusuri 5th avenue menuju Central Park untuk menghabiskan waktuku. Seperti yang kuduga, Central Park ramai sekali. Selain memang anak-anak sekolah libur akhir tahun, juga karena banyak wisatawan. Banyak kusir yang menawarkan keliling Central Park dengan andong. Dan subhanallah, kudanya tinggi dan besar, dan diberi mantel pula. Pemiliknya yang begitu sayang, nampak tidak ikhlas jika kudanya kedingingan.
Taman di jantung kota New York. Menurutku suatu keajaiban. Hutan kota, dengan banyak pepohonan, ada bebatuan, hewan-hewan liar, yang dikelilingi rapatnya belantara gedung-gedung pencakar langit. Ada pohon-pohon dan rumput atau semak yang tetap hijau di musim dingin dengan suhu di bawah nol derajat Celsius. Lainnya bertahan dengan batang kelabu, yang tetap bertahan hidup dalam suasana dingin dan beku.
Patung kuda dengan penunggangnya yang gagah menyambut pengunjung yang akan masuk ke taman. Bangku-bangku taman—kosong, siap diduduki. Tergoda aku untuk duduk disitu. Sejenak, kuamati orang-orang yang berjalan di jalan setapak ke dalam taman. Banyak diantara mereka bercanda dengan keluarganya. Banyak pula yang berjalan dengan pasangannya.
Angin menampar pipi. Kembali, dingin merayap menusuk tulang. Aku sendiri, masih terduduk di dekat patung kuda. Dingin dan sendiri. Kutemukan lagi perasaan lain yang tercampur di hati. Aku mempertanyakan diriku, “mengapa aku masih sendiri ya, di umur yang sudah menginjak kepala tiga?” Mengapa dan mengapa, dan justru yang aneh, mengapa aku mempertanyakannya. Burung-burug kecil terbang di pagar taman, menyadarkan lamunanku. Aku berdiri dan mulai mengikuti jalan setapak masuk ke dalam taman.
Bebatuan terjal ada di sebelah kiri jalan setapak. Seringkali di akhir pekan aku ke taman, tidak lupa aku naik ke bebatuan itu, hingga dapat meraih daun entah cemara entah pinus yang selalu berwarna hijau sepanjang tahun. Aku menyukai bebatuan itu. Mungkin terjalnya itulah yang menggambarkan diriku—khususnya perjalananku mencari pasangan hidup.
Kuteringat telepon ibuku tadi pagi.
“Nduk, kapan kamu sampai Yogya?”
“Selasa pagi,bu?”
“Lho, kok lama banget sampainya, kan kamu Sabtu malam dari New York”
“Iya, bu. Minggu sore sampai di Qatar, transit semalam, Senin pagi dari Qatar, malam sampai Jakarta. Tidak bisa mengejar penerbangan ke Yogya. Selasa pagi baru sampai Yogya.”
“Calonmu sudah ada, Nduk?”
Calon suami? Pasti itu yang dimaksudkan ibuku. Apa yang harus kukatakan? Selama di New York aku benar-benar hanya belajar, belajar dan menghabiskan waktu untuk ke perpustakaan. Kalau di rumah, menyiapkan makanan malam dan paginya memasak untuk sarapan dan bekal makan siang ke kampus saja, mengingat harganya yang mahal untuk status mahasiswaku sehingga tidak memungkinkan membeli makan siang di kampus. Aku memilih diam saja.
“Kamu itu jangan pilih-pilih to, Nduk, kamu semakin tua, sudah PNS (pegawai negeri sipil), kamu itu mau mencari apa lagi” ibuku terus menutup telpon, aku dengar suaranya, pasti beliau terus menangis.
Jangan pilih-pilih! Mengapa orang selalu mengecap aku demikian. Aku sebenarnya tidak pilih—pilih. Aku merasa, justeru akulah korban kegiatan pilih-pilih mantan-mantanku itu.
Dulu aku sudah hampir menikah. Ketika aku di semester akhir kampusku, aku berkomitmen menikah dengan seorang mahasiswa semester terakhir kampus tetangga—setelah lulus nanti. Orangtua masing-masing sudah setuju. Namun, komitmen hanyalah komitmen. Ternyata setelah lulus, komitmen boleh berubah. Ketika aku telah lulus dan menjadi guru di sekolah swasta favorit terkenal, dan si ‘calon’ telah bekerja di perusahaan terkenal, orangtuanya berubah pikiran dengan mengenalkan seorang dokter yang dianggap punya masa depan lebih baik dariku. Yah, yang ditawaripun menyetujuinya. Aku jadi teringat kata teman sekelas semasa kuliah sarjanaku dulu, “Boleh ingkar, asal loyang gantinya emas.”
Aku mengambil nafas pajang. Kembali kususuri jalan-jalan setapak di taman. Kuamati sebatang pohon. Di depanku ada laki-laki yang membawa topi dan tas, menggenggam kacang almond, kemudian berjongkok di bawah pohon. Setelah bersiul kecil, datanglah tupai-tupai yang kemudian—satu tupai dengan sangat cepat mengambil atau lebih tepat merebut satu biji kacang almond dari tangan si pemberi tersebut kemudian berusaha disembunyikan. Entah dikubur dalam dedaunan yang rontok di musim gugur, entah dibawa lari naik ke pohon. Atau demikian pula calonku itu, dia lari dan menggantung komitmennya denganku—karena telah memeroleh sesuatu yang lebih diingininya? Mengapa tidak dari dulu dia lari dariku—sehingga tidak perlu membuat komitmen yang tidak hanya menyakitiku namun juga menyakiti orangtuaku? Tidak tahulah….
Kemudian aku melewati sebuah pohon. Ada seorang ibu muda yang menunggui 3 gadis kecilnya yang sedang memanjat pohon. Salah satu dari ketiga gadis kecil tersebut akan jatuh. Aku berusaha berlari mendekat dan mencoba ikut berjaga. Si ibu menjadi agak panik. Gadis kecil lain mengingatkan dengan berteriak, “Hold on, or you will kill your self!”. Setelah posisi aman, ibu muda tadi memberikan senyum terbaiknya untukku. Betapa manis ibu muda itu, yang juga menurun kepada anak-anak gadisnya.
Dekat tepat ice skating, ada seorang gadis—sepertinya dari Jepang– minta tolong difoto. Kubantu dia dengan mengambil gambar beberapa kali dan berbeda posisi. Setelah mengucapkan terimakasih, dia kemudian pergi sendiri melanjutkan perjalanan ke arah danau. Sendiri? Perasaan itu kembali melintas. Kalau sekarang sendiri, siapa ya yang menemani, mengambil fotopun kadang harus minta tolong. Kalau sendiri ketika tua nanti bagaimana? Hidup sendiri, sakit merasa sendiri, … mati sendiri? Ya tidak mungkinlah, toh nanti tetangga yang mengubur…. Aku menyangkal pertanyaanku sendiri.
Ketika aku mengajar di sekolah dasar setelah lulus kuliah, pernah ada teman sesama guru yang mendekatiku. Dia sudah menyatakan perasaannya kepadaku pula. Mungkin karena pada saat itu aku terlalu berharap, banyak berdoa, dan merasa jodohku sudah dekat, aku merasa dia itulah jodohku. Singkat cerita, aku menerima cintanya. Suatu saat dia pulang kampung. Sepulang dari kampung, dia membawa suatu berita. Tanpa ekspresi dia katakan, “kita putus saja ya, orang tuaku tidak setuju jika aku menikah dengan orang yang seprofesi. Orangtuaku menyetujui dan melamarkan untukku seorang karyawan dari pabrik sebelah rumah.” Setelah berkata begitu, dia ngeloyor pergi. Aku hanya bingung. Apa sebenarnya yang dimaui laki-laki? Apakah tidak punya hati, sehingga sah-sah saja—pergi sekehendak hati—menggantung janji. Mungkin baginya tidak penting, atau orang lain dianggap benda yang tidak punya hati.
Pukul 10 pagi waktu New York. Masih dingin. Kubayangkan di Yogya, pukul 10 pagi berdiri di bawah terik pasti sudah merasa kepanasan. Kulanjutkan perjalanan, tentu saja sambil melamun. Aku teringat teman-temanku. Sebenarnya aku punya banyak teman di New York. Teman-teman dari negeri lain, teman-teman sesama orang Indonesia, maupun teman-teman pengajian. Sebagian besar dari mereka masih sendiri, bahkan di umur 30 atau 40 tahun lebih. Mereka tenang-tenang saja, dan merasa tidak punya masalah. Setiap bulan bayar premi asuransi, sehingga selalu merasa ada jaminan merasa aman, bahkan ketika bepergian sekalipun. Seorang temanku pernah mengikuti konferensi di Cape Town, di sana mengalami kecelakaan tergelincir di tangga, namun menyebabkan tulang kaki dan tulang tangannya patah. Sendirian di sana, dan semua biaya pengobatan ditanggung asuransi sampai dia pulang ke New York lagi setelah sembuh.
Masalah biaya hidup di hari tua? Untuk seperti itu, teman-temanku njlimet sekali. Penghasilan yang diterima tiap bulan ditabungkan sebagian untuk tabungan hari tua. Sebagian gaji dari kerja part timenya, selain digunakan untuk mengirimi orangtua di kampung. Sampai suatu ketika, ketika dia tidak sengaja menunjukkan jumlahnya kepadaku, menurutku jumlah itu bisa untuk hidup tujuh turunan, tentu saja menggunakan standar hidupku.
Masalah berbagi cerita? Kami ada komunitas yang saling mendengarkan dan saling membantu dalam urusan apapun. Masalah sekolah, masalah kantor, sampai masalah keuangan. Semuanya saling membantu. Waktu sebagian besar dihabiskan untuk kerja. Demikian pula energy tubuh. Sehingga akhir pekan tinggal dihabiskan untuk menge-charge energy tubuh lagi. Tiba-tiba hari mulai Senin kembali, begitu seterusnya. Apakah karena tidak ada waktu untuk memikirkan keluarga ataukah karena kemudahan hidup? Dua pertanyaan itulah seolah menjadi jawabannya.
Aku sudah sampai di danau. Danau yang bening dan tentu saja dingin. Meski dingin, banyak burung-burung liar beterbangan kemudian berenang di sekitarnya. Angsa-angsa liarpun tidak enggan untuk berkeliling, ada beberapa yang nampak masih muda. Angsa-angsa muda ini yang nantinya akan menggantikan generasi angsa-angsa yang tua untuk melanjutkan kehidupan. Melanjutkan kehidupan…dua kata itu yang menyangkut di pikiranku.
Di tepi danau, ada seorang ibu menggendong anak. Ibunya cantik, berkulit putih, tinggi dan berambut pirang. Wajah dan kulit anaknya mirip ibunya. Di hari yang dingin, seorang ibu mau bersusah payah menggendong anaknya. Mungkin itu jawaban dari dua kata yang menyangkut itu. Termasuk jawaban, mengapa seseorang mau bersusah payah? Menyusui, mengganti popok, menyiapkan makanan, menggendong, membiayai sekolah, mendidik, menikahkan… Apakah itu dilakukan secara naluriah karena melanjutkan keturuan? Atau karena ada keinginan lain, misalnya kalau sudah tua ada yang mau merawat? Tentu saja mudah ditebak, Allah memberikan naluri kepada manusia dan makluk hidup lainnya untuk melanjutkan keturunan. Melanjutkan keturunan bukan saja punya tujuan agar ada yang menjaga kalau usia sudah tua nanti, namun juga melestarikan peradaban, dan juga melestarikan adanya hamba yang menyembah Tuhan. Mungkin juga seiring dengan amanah Allah untuk menjaga bumi ini, meskipun pada ujungnya lebih banyak yang merusaknya dibanding menjaganya.
Kalau semua orang berprinsip akan hidup sendiri, pasti lama-lama yang terjadi adalah pengurangan jumlah penduduk. Jika semua orang tidak mau melanjutkan generasi dengan beribadah dalam wujud menikah karena Allah kemudian melanjutkan keturunan, ataupun tidak mau menikah karena repot jika mengurus anak maka bisa jadi peradaban runtuh. Berarti dengan tidak menikah, aku mempunyai andil dalam meruntuhkan peradaban. Apakah aku mau seperti itu?
Di sebelah danau ada kursi taman. Aku duduk di situ, masih mengamati orang-orang. Kulanjutkan perenunganku. Kalau ditanya dan dijawab dengan jujur, siapa yang mau hidup sendiri? Tentu tidak ada. Pasti tiap orang punya naluri untuk tinggal bersama kelompok dan berbagi. Mempunyai orang dekat juga ada kenikmatannya sendiri. Mengarungi duka bersama, berbagi suka bersama. Termasuk jika melakukan perjalanan, bisa saling menolong. Rasanya otakku menerima alasan, kenapa orang harus menikah, menyangkal pendapat teman-temanku yang tinggal di New York bahwa mereka juga dapat hidup sendiri dengan pilihan tidak menikah.
Aku ingat untuk melihat handphone. Tadi pagi setelah ibuku menelepon, rasanya ada pesan singkat yang masuk. Karena sibuk berdialog dengan diri-sendiri, aku tidak teringat untuk membukanya. Pesan singkatnya dari guru yang mengasuh pengajian kami di Yogya. “Assalamualaikum wr wb. Ada ikhwan yang tertarik dengan biodata anti. Beliau ustadz yang juga mengasuh pengajian kita. Insyaallah anti kenal. Biodata terlampir. Mhn dipertimbangkan. Syukron.” Kubaca pesan itu dengan agak gemetar. Benarkah ini? Kemudahan teknologi memudahkan untuk kemudian membuka email. Dengan menggerakkan jariku di layar handphone, lampiran surat tersebut bisa langsung diunduh dan dibaca.
“Subhanallah wal hamdulillahi la ilaha ilallahu allahu akbar,” bacaan itu meluncur dari mulutku. Memang beberapa bulan yang lalu teman-teman pengajianku di Yogya yang tentunya lebih muda dariku telah menikah dan mereka bertemu dengan calonnya melalui ta’aruf yang difasilitasi oleh guru pengajian kami. Mereka menyarankan kepadaku untuk melakukan hal yang sama. Mungkin karena trauma dengan 2 kegagalanku sebelumnya, aku enggan mengikuti saran itu. Setelah sahabatku mengajak dialog dan membujukku, akhirnya aku mau mengikutinya juga. “Tidak ada salahnya mencoba, Allah sudah menuliskan siapa jodohmu. Mungkin ini jalanmu,” katanya, yang akhirnya kuikuti juga sarannya untuk mengirimkan biodata kepada guru mengajiku lewat email.
Kubaca lampiran itu. Aku kenal laki-laki yang ada layar. Dia laki-laki yang gigih belajar, penyuka buku. Karena ketertarikannya menguasai agama, dari SMA umum dia mengambil kuliah sastra Arab, dan berbekal bahasa Arab itu dia mempelajari sendiri berbagai kitab dari Timur Tengah. Ketika berumur 21 tahun, dia sudah mulai mengisi berbagai pengajian, termasuk pengajianku. Setelah lulus kuliah, kemudian dipercaya mengelola sebuah pondok pesantren. Penggemarnya juga banyak, karena jika mengisi pengajian, pilihan kata maupun ungkapannya enak sehingga mudah dicerna semua kalangan. Mengapa dia memilih aku? Aku wanita yang sudah bisa dikatakan tidak muda lagi. Umurku sudah 32 tahun sepulang dari New York nanti. Sementara ustadz di biodata itu? Masih muda sekali, baru menginjak 25 tahun. Bagaimana aku hidup bersama dia nanti, laki-laki yang jauh lebih muda? Apa kata orang nanti, aku pasti dikatakan dapat berondong. Aku menjadi bimbang dan takut.
Masih sambil duduk, kuamati ranting-ranting pohon tanpa daun. Menara-menara tinggi menjulang nampak di atasnya. Lalu-lalang orang makin bertambah meskipun hari semakin siang dan angin dingin makin kencang dan tambah dingin menampar pipi. Kupakai kembali sarung tangan kulitku yang kubuka saat melihat pesan singkat tadi. Tanpa sadar kuucapkan,”la illaha ilallah muhammadur rosulalloh.” Aku menjadi sadar. Nabi, kenapa aku sejenak melupakan itu? Beliau berumur 25 tahun menikah dengan ibunda Khadijah yang berumur 40 tahun dan bisa menjalani hidup dengan ujian-ujian yang begitu berat. Mengapa menjadi takut dan ragu, padahal teladan telah ada?
Alhamdulillah, hatiku menjadi lega. Aku mempunyai oleh-oleh harapan untuk ibuku, setidaknya menunjukkan bahwa aku tidak patah hati. Aku kembali mencoba menemukan yang telah dituliskan Allah untukku. Mungkin saja ustadz muda itu memang jodohku, dan Allah pasti punya alasan kenapa aku harus menunggu begitu lama untuk menemukannya. Termasuk mengapa Allah mempertemukanku dengan laki-laki yang jauh lebih muda dariku. Aku hanya percaya, Allah akan memberi yang terbaik untukku.
Aku melihat arlojiku. Ternyata hampir tengah hari, meskipun di langit New York masih kelabu dan belum nampak ada matahari. Bergegas aku menyeberang jalan untuk kembali menyusuri jalan setapak menuju apartemenku. Waktu shalat zhuhur sudah dekat. Bismillah, aku akan segera pulang. Insyaallah aku akan menemukan teman hidupku untuk berbagi, sehingga aku tidak sendiri lagi, menyusuri dan menyusuri jalan setapak kehidupan yang telah digariskan Allah untukku. Bersama melanjutkan hidup, tetap melestarikan dan membangun peradaban.
5th Avenue New York, 22 Desember 2012

Diterbitkan oleh Pewara Dinamika UNY, 2014.

4 comments

Lompat ke formulir komentar

  1. rizaldi

    menyentuh. i’ll be there one day

  2. arien

    Ibu,… ceritanay bagus. Memaksa saya membacanya sampai akhir,….. Bolehkah saya meminta salinan naskahnya untuk bisa saya jadikan cerita inspiratif di sekolah saya?
    Salam hangat.
    (SMK N 2 Wonosari)

  3. lisda

    Nice Bu Heri …..

  4. Fitriani

    Sangat Menginspirasi ibu,,,

Tinggalkan Balasan ke arien Batalkan balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>