«

»

Okt 07

Tiga Induk Dosa Manusia

Tiga Induk Dosa Manusia

Pada jaman sekarang, banyak macam dosa yang dilakukan oleh manusia. Pada dasarnya, dosa di dunia yang banyak sekali tersebut bisa diklasifikasikan menjadi tiga, yakni sombong, serakah, dan hasad.
1. Sombong
Sombong terjadi pada kejadian penciptaan manusia, iblis tidak mau sujud kepada manusia. Iblis tidak mau bersujud kepada manusia karena iblis merasa derajat iblis yang terbuat dari api lebih tinggi dibandingkan manusia yang terbuat dari tanah. Allah swt memerintahkan kepada kepada penghuni langit untuk menghormati dan memuliakan nabi Adam as, para malaikat bersujud menghormati nabi Adam as, kecuali iblis. Hal ini merupakan salah satu bentuk kesombongan karena merasa lebih mulia dibandingkan yang lain.

(“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.)(QS 2. Al-Baqoroh:34).

Kalau iblis menjadi sombong karena merasa lebih mulia, mungkin dalam kehidupan sehari-hari banyak terjadi kasus kesombongan. Ada orang yang merasa berasal dari keturunan yang baik, merasa dikaruniai kedudukan tinggi, harta yang banyak dan anak yang sukses, pengetahuan yang luas, sehingga merasa lebih baik dibandingkan orang lain.

2. Serakah
Kadang manusia kalau diberikan kenikmatan, akan terus berusaha mempertahankan dan menambah terus kenikmatan yang anugrahkan Allah swt tersebut. Hal ini termasuk ke dalam sifat serakah. Nabi Adam as ketika di surga dibebaskan untuk makan semua jenis buah-buahan, namun telah dilarang Allah swt untuk memakan sejenis buah tertetu. Karena tipu daya syaitan, yang memberikan janji kalau makan buah tersebut akan kekal tinggal di surga yag penuh kenikmatan, maka dimakanlah buah tersebut.

(“Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang zalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari Keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”)(QS 2. Al-Baqoroh : 35-36).

Serakah sering terjadi dalam kehidupan. Sifat serakah yang dimiliki seseorang menyebabkannya merasa tidak puas dengan apa yang dimilikinya dan memperturutkan hawa nafsu, baik nafsu kekuasaan, kekayaan, nafsu perut, maupun nafsu bawah perut. Karena memperturutkan sifat ini, sering terjadi kasus-kasus yang merugikan pelaku sendiri maupun orang lain, misalnya korupsi, kolusi, penipuan, penganiayaan, perampokan, dan perbuatan keji lainya.
3. Iri dan Dengki (Hasad)
Dosa iri dan dengki terjadi pada kisah dua putera Adam (Habil dan Qabil). Ketika korban salah satu dari keduanya tidak diterima, maka timbullah kedengkian yang mengakibatkan terjadinya pertumpahan darah.

(“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”)(QS 5 Al-Maidah:27).

Kasus iri dan dengki ini berdasarkan kisah tersebut telah dapat mencelakakan orang lain. Demikianpula pada kondisi sekarang ini, kasus iri dan dengki terjadi di manapun. Karena adanya iklim kompetisi yang kurang sehat, mengakibatkan kasus ini terjadi tidak hanya perorangan namun juga ke skala yang lebih luas.
Agar terhindar dari ketiga dosa di atas, kita perlu memiliki sifat yang rendah hati, qonaah, dan selalu menjaga sikap selalu bersyukur. Sebagai manusia ciptaan Allah swt, kita perlu merasa bahwa kita adalah hamba, yang sama-sama kecil di hadapan Allah swt. Segala sesuatu yang kita miliki adalah milik Allah swt, dan semuanya tidaklah kekal, baik harta, kedudukan, kecantikan, dan lainnya. Allah melihat manusia hanya berdasarkan ketaqwaannya, sehingga tidak ada alasan bagi manusia untuk berlaku sombong.
(“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.”)(QS 17 Al-Israa’:37).

Sikap qonaah yakni ridho terhadap apa yang ditetapkan dan dikaruniakan Allah swt kepada kita akan membuat kita hidup tenang dan tenteram, sehingga kita tidak perlu memiliki sifat serakah. Semua yang kita alami telah ditetapkan oleh Allah swt, sehingga kita hanya bisa berusaha dan berserah diri kepada Allah.

(Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”) ( QS 9 At-Taubah :51)

Ridho kepada tetapan Allah swt tidak hanya menjamin manusia hidup tenang selama di dunia. Dengan memiliki sifat ridho kepada apa yang ditetapkan Allah swt, kemuliaan dari Allah untuk hamba yang ridho pada ketetapanNya menunggu di akherat.

(“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.”(QS 98 Al-Bayyinah:8).

Sebagai hamba, kita selayaknya memiliki sifat bersyukur atas segala anugrah dari Allah. Dengan sifat syukur atas apa yang diberikan kepada kita, membuat hati terbebas dari rasa dengki. Allah swt memerintahkan kita untuk bersyukur dan tidak mengingkari nikmat dari Allah swt.

(“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”(QS 2 Al-Baqoroh : 152).

Allah Maha Mengetahui segala kebutuhan manusia, dan memberi apa yang kita perlukan. Apa-apa yang diberikan Allah swt kepada kita, telah disesuaikan dengan kebutuhan kita. Selain itu, Allah memberikan kepada kita sesuai dengan yang telah kita usahakan, sehingga tidak perlu memiliki sifat iri hati, apalagi karena sifat iri hati yang dimiliki sampai melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri bahkan mencelakakan orang lain.

(“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”)( QS 4 An-Nisaa’:32).

Semoga Allah menjaga kita dan menjauhkan kita dari berbuat dosa yang merupakan dosa induk manusia.

(Artikel ini ditulis berdasarkan ceramah Ustadz Aris Munandar, M.Pd.I dari Yufidtv tentang Tiga Induk Dosa Manusia).Retno Jamilurrohman

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>