«

»

Okt 06

SMS Rekening

SMS Rekening Bank
Oleh: Retno Jamilurrohman

“Mi…..ada es em es, buka dong!” Suara handphoneku berbunyi. Suara ini adalah ringtone yang kurekam sendiri, suara anakku ketika berumur 3 tahun. Banyak komentar teman-teman mengenai pilihan ringtone untuk handphone jadulku ini. Sebagian besar biasanya suka, karena ada suara anak kecil yang lucu, setidaknya menurutku. Sebagian ada yang kurang suka, dan berkomentar, “kok suara anak kecil sih? Kan ada bunyi lain yang lebih bagus, misalnya lagu Cellin Dion atau apa….”. Seperti biasa, aku cukup diam dan senyum saja, mengingat kualitas suara di handphonku masih mono, sehingga kalau diberi ringtone Cellin Dion yang suaranya amat sangat indahpun pun akan terasa nyaring dan memekkakkan telinga.
Seperti biasa, aku tergopoh-gopoh mengambil handphone kesayanganku dan hanya satu itu yang kumiliki. Takut, kalau yang sms atasan. Jika atasanku sms, dan tidak segera menjawab, bisa berakibat lebih parah. Selain pekerjaan yang harusnya aku lakukan setelah mendapat sms bisa kacau, bisa juga kena ungkapan perhatian atasan alias kena marah. Padahal, kadang tidak menjawab sms karena tidak ada pulsa, atau batre sedang ngedrop karena batere yang minta ganti. Atau hpnya yang harus ganti ya…
Segerakubuka gambar surat yang masih tertutup.
“Segera dikirim saja uangnya. Di bank XXX kantor cabang Sleman Yogyakarta nomor rekening 00ABCDEXYZ. “
Aku menghela nafas. Ah….mengapa banyak orang mengirim sms seperti ini, ya. Biasanya dikirim ketika akhir bulan, awal bulan, dan menjelang peringatan hari besar, misalnya lebaran, lebaran haji, dan natal. Kadang mendapat SMS senada dengan sms tersebut ketika musim pembayaran uang SPP kuliah, sekitar bulan februari dan bulan agustus-september. Apa ya maksud mereka mengirimkan SMS tersebut kepadaku, padahal mereka belum tentu mengenal aku….
Sambil menunggu habis waktu istirahat siang setelah menghabiskan isi bekal makan siangku, aku melongok ke luar jendela. Mencoba mencari jawaban atas pertanyaan itu. Kulihat lalulalang orang baik mahasiswa, karyawan, maupun dosen yang sebagian aku mengenalnya. Mereka menuju kantin yang menjual makan minum. Kami sangat tertolong dengan kantin itu, setelah setengah hari bergelut dengan pekerjaan administrasi, melayani, dan sebagainya. Satu lagi yang menarik, harga makan minum disitu terjangkau di kantong kami….Ya, kita memang perlu makan dan kita harus membayar untuk memperolehnya dengan budget yang dimiliki.
Aku bersyukur memperoleh satu jawaban. Setiap orang perlu makan, dan untuk dapat makan harus bekerja. Terus kalau yang tidak bekerja makan apa? Pertanyaan lanjutan mengusikku. Apakah aku sudah terkena virus berfikir kritis seperti mahasiswa ya… sehingga pertanyaan selalu mengalir di kepalaku dan selalu berusaha mencari jawabnya. Kujawab sendiri, meskipun tidak bekerja, orang tetap perlu makan….
Kusimpan dulu pertanyaanku. Kusapu pandanganku ke arah timur kantin, ada bank. Tempat favoritku kalau tanggal muda. Di tempat itu aku dapat gaji, yang merupakan jaminan hidup keluarga selama sebulan. Juga di bank itu aku bisa mengirimkan uang untuk adikku. Dengan megirimkan melalui bank, transaksi menjadi lebih mudah dan uang cepat sampai tanpa harus menunggu berhari-hari seperti dulu ketika masih menggunakan jasa yang lain.
Mengenai, membantu biaya kuliah adikku, sebenarnya suatu pilihan. Adikku sudah tamat SMA sebenarnya. Dia mau bekerja apa saja, sehingga bisa membiayai hidupnya sendiri. Namun aku bersikeras agar dia sekolah lagi. Aku termasuk orang yag mempercayai bahwa orang yang ‘alim, orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya bisa memiliki kehidupan yang lebih baik. Baik di sini dalam arti penghasilan, dan orang yang ‘alim dijamin lurus kehidupannya.
Orang yang lurus kehidupannya…. Kembali aku terusik oleh pertanyaanku mengapa orang mau mengirim sms nomor rekeningnya kepadaku. Apakah sebenarnya si pengirim SMS itu seorang penipu? Ah… tidak juga, aku menepis sendiri anggapan itu. Dia tidak menipu. Dia hanya memasang perangkap, agar jikalau ada orang yang mau mengirim uang untuk anaknya, saudaranya atau koleganya, bisa menerima informasi nama pemilik dan nomor rekening, sehingga pengirim akan salah kirim. Seharusnya untuk uang tersebut untuk anak atau koleganya, namun akhirnya masuk ke rekening si pengirim SMS. Memasang perangkap itu apakah tindakan kejahatan? Mungkin mereka perlu uang untuk membeli makanan? Atau mereka tidak mempunyai pekerjaan sehingga harus memasang perangkap? Ataukah mereka tidak pernah bersekolah atau menuntut ilmu sehingga tidak tahu memasang perangkap bisa merugikan orang lain?
Bertanyaan lain berjubel-jubel di kepalaku. Kembali kusapu pandanganku lewat jendela kantor sebelah selatan bank. Ada kantor pos. Tempat favoritku waktu kuliah. Di tempat itu dulu…..20 tahun yang lalu, aku dapat mencairkan wesel kiriman orangtua. Atau juga membeli perangko dan mengirim surat, untuk seseorang yang kini jadi suamiku. Kembali kenangan-kenangan terulang, ketika dulu harus jalan kaki ketika panas dan hujan…diantara pohon-pohon tinggi bunga bungur ungu dan merah jambu. Kalau beruntung berjalan ke kantor pos ketika musim bunga, terasa seperti dibawah bunga sakura di musim semi. Melihat kantor itu, teringat kartu pos, surat biasa, surat kilat khusus, paket, wesel pos…. semua begitu berarti bagiku dan berjasa sekali hingga aku bisa seperti sekarang.
Sekarang seolah tidak ada lagi perjuangan seperti dulu. Kalau ada gambar yang bagus, tidak perlu buat atau beli kartu pos. Tinggal difoto, dikirim seseorang via MMS, atau diupload dengan mengupdate status di jejaring sosial. Mau mengirim surat, langsung diketik dan dilampirkan saja. Dalam ukuran detik dan menit sudah mendapat jawaban apakah suratnya sudah sampai. Mengirim laporan tidak perlu mengemas dan digotong-gotong ke jasa pengiriman, namun tinggal dikompres dan diemail saja. Mengirim uang tinggal menggunakan e-banking atau sms-banking, jadi ketika mengirim tambahan uang saku untuk anakku yang sekolah di luar negeri hanya di rumah saja uang sudah sampai. Begitu mudahnya transaksi dilakukan. Ya… segala puji untuk Tuhan yang Esa, yang telah menginpirasikan manusia mempunyai teknologi informasi yang begitu maju.
Sepertinya aku memperoleh jawaban lagi untuk pertanyaanku. Kemudahan akses dan teknologi informasi digunakan orang untuk memasang jebakan. Bagaimana tidak, hanya dengan mengirimkan SMS kepada ribuan orang dengan tarif yang sangat murah, siapa tahu ada beberapa yang masuk perangkap. Kemudahan transaksi juga akan menyulitkan pelacakan tindak kejahatan. Sehingga dapat saja si pengirim SMS dengan mudah melakukan aksinya, baik mengirim SMS, maupun mengambil uang sebagai hasil memasang perangkap.
“Mi…..ada es em es, buka dong!”HP jadulku berbunyi nyaring. Aku terhenyak. Kubuka SMS yang baru masuk dengan malas. Ternyata atasanku. Beliau meminta aku supaya mengirim nomor rekening kantor ke suatu kolega untuk membayarkan jerih payah kami yang membantu proyek kolega kami tersebut. Memang rekening atas namaku sebagai admin, sehingga memudahkan proses transaksi, dengan semua transaksi atas sepengetahuan atasanku.
Segera kuhubungi kolega via telpon kantor. Tidak diangkat. Masih istirahat siang, pikirku. Kuhubungi lewat HPnya. Tidak diangkat juga. Akhirnya kuputuskan, halaman kedua dan ketiga buku tabungan di bank yang ada nomor rekeningnya difotocopy, kemudian dikirim lewat faksimili. Tidak terkirim. Sesama staf menyarankan, “Mbak, disms saja. Semua usaha sudah dilakukan, siapa tahu lagi rapat. Nanti ‘kan dibuka juga”. Aku menuruti.
Staf yang kukirimi sms namanya mirip namaku, Retno. Ada dua nama Retno yang tercatat di HP. Aku ingat, mbak Retno kolegaku ini mempunyai 2 handphone. Kukirimlah pesan singkat kekedua nomor HP mbak Retno, “Mbak. Mhn maaf, tadi mbak minta nomor rekening bank kami ya. Nomor rekening bank kami …….. atas nama saya, kantor cabang Sleman Yogakarta. Terimakasih”. Status terkirim. Aman, pikirku dengan tenang.
Kutunggu satu jam, dua jam, tiga jam, tidak ada balasan. Ketika matahari mulai tenggelam, HPku berbunyi nyaring dua kali, tanda ada 2 SMS masuk. Ada 2 balasan. Retno yang satu membalas, “Ya mbak, lain kali mengirim pesannya ke nomor saya saja ya.” Dengan berdebar karena ada sesuatu yang salah, kubuka dari Retno yang lain. “Saya Retnosari. Lainkali kalau saya punya uang, saya kirim ke ibu”. Duh, yang kedua ketus sekali.
Setelah kucoba ingat, memang di kantor tersebut ada 2 orang bernama Retno. Retnosari dan Retnoningsih, yang sama-sama bekerjasama dengan lembaga kami. Retnoningsih-lah yang meminta nomor rekening admin kantor kami, bukan Retnosari. Meskipun kedua Retno satu kantor, namun ternyata mereka berdua tidak memiliki urusan yang sama dalam bekerja. Akhirnya aku meminta maaf kepada Retnosari, tentu melalui SMS.
Kulalui malamku hari itu dengan galau. “Lain kali kalau punya uang, saya kirim ke ibu”. Kalimat itu terbayang-bayang di depan mataku, di dinding, di layar TV, di piring nasi, di cermin…. Meskipun sudah minta maaf via sms yang terkirim dan juga tidak dibalas, aku sangat merasa bersalah….
Meskipun secanggih apapun teknologi, ternyata bisa salah juga. Tergantung sumberdaya manusia, begitu kalau aku membaca di koran. Mungkin pelajaran itu yang harus kutelan hari ini. Kalau siang tadi aku galau karena memperoleh sms nomor rekening bank, malam ini aku galau karena salah tujuan mengirimkan nomor rekening bank. Alternatif jawaban terakhir mengapa orang mengirim sms nomor rekening bank adalah salah kirim. Mengapa mereka tidak meminta maaf seperti yang sudah kulakukan ya? Pertanyaan-pertanyaan liarku kembali mulai mengusik…meski badan sudah terbaring.

Dimuat di Pewara Dinamika, Akhir 2013

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>