«

»

Okt 06

Pembuktian Validitas yang Keliru

Praktek Pembuktian Validitas yang Keliru
Di masyarakat ilmiah, ada beberapa praktek pembuktian validitas yang belum memenuhi definisi validitas. Kumaidi (2014) menyatakan bahwa
“……banyak praktik pembuktian validitas yang dilakukan oleh mahasiswa atau peneliti yang sebenarnya belum memenuhi definisi validitas. Pendekatan ini tentu perlu dipertanyakan dan sebaiknya ditinggalkan dan dihindari. Pendekatan yang harus dihindari yang dimaksudkan adalah pembuktian validitas yang didasarkan pada analisis butir (item analysis), terutama pemakaian koefisien korelasi skor butir dan skor total tes (rix). Dalam pengukuran yang menghasilkan skor dikotomi koefisien korelasi product moment ini dikenal juga sebagai korelasi point biserial (rpbis).
Kumaidi (2004) menguraikan ketidaktepatan pemakaian rix ini sebagai indeks validitas butir sebagai sebuah kekeliruan dan perlu dihindari. Alasan yang dikemukakan adalah rixhanyalah (1) indeks daya beda butir; (2) bagian dari indeks reliabilitas butir; dan (3) homogenitas item (dalam satu set tes atau instrumen). Alasan rix dipakai sebagai indeks validitas dengan menggunakan internal criterion dikarenakan kesulitan menemukan external criterion tidak dapat diterima, karena dengan menggunakan internal criterion rix lebih dekat ke analisis reliabilitas dibanding kepada analisis validitas. Jabaran rix terkait dengan koefisien reliabilitas dapat dibaca dalam artikel Kumaidi (2004) yang terbit di Jurnal Ilmu Pendidikan (JIP), jilid 11, nomor 2, terbit Juni 2004, halaman 107-114.”
Terkait dengan hal tersebut, pada pembuktian validitas yang sesuai dengan definisi validitas, perlu digarisbawahi terbuktinya validitas isi, konstruk, dan kriteria. Dalam suatu penelitian, validitas isi dapat dibuktikan melalui ahli yang menilai validitas tiap butir instrumen kemudian hasil penilaian ini digunakan untuk menghitung indek Aiken. Validitas konstruk dapat dibuktikan dengan analisis faktor, baik eksploratori maupun konfirmatori. Validitas kriteria dapat dibuktikan dengan mengetahui besarnya korelasi antara skor responden yang diperoleh dengan instrumen tersebut terhadap skor yang dianggap sebagai kriteria.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>