«

»

Okt 06

Pemanfaatan dan Tindak Lanjut Penilaian

Dari Skor 4,25 Menjadi Skor 10,0

(Perjuangan Memeroleh Skor Sempuna

dalam UASBN Mata Pelajaran Matematika SD)

 

Oleh: Heri Retnawati (Pendidikan Matematika FMIPA UNY)

 

Abstrak

Ujian akhir di suatu jenjang pendidikan saat ini masih menjadi toloh ukur keberhasilan pendidikan di Indonesia dan menjadi salah satu penentu kriteria akreditasi sekolah dan kelanjutan studi peserta didik. Artikel ini mendeskripsikan perjuangan seorang siswa memeroleh skor sempurna pada ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) di akhir kelas 6 SD, didukung kerjasama sekolah, guru, dan orangtua siswa. Studi ini merupakan studi dengan pendekatan kualitatif, dan data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis dilakukan dengan display data, reduksi data, dan verifikasi. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh bahwa skor sempurna dalam ujian nasional dicapai karena siswa menyadari perlunya belajar dan perlunya pengetahuan yang dipelajari, adanya motivasi dari dalam dan luar diri, kerjasama sekolah, guru, dan orangtua dalam memanfaatkan hasil evaluasi dan memperbaiki pembelajaran untuk siswa, yang menyadarkan siswa untuk bekerja keras dan menjadi pebelajar yang baik.

Kata kunci: skor UASBN mapel matematika, usaha mencapai skor sempurna

Latar Belakang

Mutu pendidikan dengan indikator hasil pendidikan, dipengaruhi oleh beberapa faktor. Bridge, Judd, dan Mocck (1979) menyatakan bahwa hasil pendidikan merupakan fungsi produksi dari sistem pendidikan. Mutu sekolah sebagai suatu sistem pendidikan merupakan fungsi dari dari proses pembelajaran yang efektif, kepemimpinan, peran serta guru, peran serta siswa, manajemen, organisasi, lingkungan fisik dan sumberdaya, kepuasan pelanggan sekolah, dukungan input dan fasilitas, dan budaya sekolah. Demikian pula halnya dalam pendidikan matematika.

Arthur & Cremin (2010: 20) beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi adalah “…pupil motivation, confidence, natural ability, willingness to persevere, personality and even state of health”, motivasi siswa, kepercayaan diri, bakat alami, kemauan untuk tekun, kepribadian bahkan keadaan kesehatan. Hal tersebut diperkuat Djaali (2011: 101), yang menyebutkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa, antara lain motivasi, sikap, minat, kebiasaan belajar, dan konsep diri.

Minat belajar siswa merupakan hal penting yang perlu distimulai pendidik dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran dan menstimulai minat siswa. Ormrod (2003: 402) menuliskan beberapa proses yang diharapkan dapat menstimulasi minat siswa, yaitu: 1) membuat variasi dan memperbarui materi atau prosedur di dalam kelas; 2) menyajikan informasi yang tidak konsisten atau tidak sesuai; 3) mendorong fantasi; 4) menunjukkan antusiasme guru terhadap topik yang dipelajari; 5) memberikan kebebasan kepada siswa untuk terlibat secara aktif dengan materi pelajaran; 6) meminta siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan baru untuk peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan kehidupan mereka; 7) meminta siswa untuk mengajarkan apa yang mereka pelajari kepada siswa lain.

Upaya menstimulasi minat ini dapat didukung dengan pemanfaatan media. Mathew Mitchel(Woolfolk, 2007: 384) menyatakan bahwa penggunaan komputer, pengelompokan, dan puzzle dapat membangkitkan minat siswa, tetapi minat itu tidak bertahan. Selanjutnya Woolfolk (2007: 384) menambahkan bahwapelajaran yang dapat mempertahankan minat dari waktu ke waktu adalah dengan memasukkan kegiatan-kegiatan matematika yang berhubungan dengan masalah-masalah kehidupan nyata dan partisipasi aktif dalam kegiatan laboratorik dan proyek.

Motivasi adalah aspek penting dari pengajaran dan pembelajaran (Santrock, 2008: 509). Hal yang sama juga diungkapkan oleh Alessi & Trollip (2001: 24) bahwa “Motivation is essential to learning”. Sering terjadi siswa yang kurang berprestasi bukan disebabkan oleh kemampuannya yang kurang tetapi dikarenakan tidak adanya motivasi untuk belajar sehingga ia tidak berusaha untuk mengerahkan segala kemampuannya. Dengan demikian, bisa dikatakan siswa yang berprestasi rendah belum tentu disebabkan oleh kemampuannya yang rendah pula, tetapi mungkin disebabkan oleh tidak adanya dorongan atau motivasi (Wina Sanjaya, 2011: 28). Secara umum, menurut Elliot, et al. (2000: 332) orang yang memiliki motivasi lebih tinggi akan meraih hasil yang lebih baik, bahkan Orlich, et al. (2007: 18) menyatakan “teachers can teach only if the learner has some desire to learn. We call that desire is motivation”. Ini menunjukkan betapa pentingnya motivasi dalam pembelajaran.

Menurut Elliott, et al. (2000: 332) motivasi didefinisikan sebagai suatu keadaan internal yang membangkitkan kita untuk bertindak, mendorong kita ke arah tertentu, dan membuat/mempertahankan untuk terlibat dalam kegiatan tertentu. Hal senada juga diungkapkan oleh Dai & Sternberg (2004: 11) yang menyatakan bahwa ditandai dengan intensitas (atau energi), arah, dan ketekunan yang diarahkan pada tujuan. Ormrod (2003: 368) dan Santrock (2011: 438) menyatakan bahwa motivasi sebagai sesuatu yang memberi energi, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku. Orlich, et al. (2007: 18) menyebut motivasi sebagai “the inner drive to do something”, yang berarti bahwa motivasi adalah gerakan/dorongan dari dalam untuk melakukan sesuatu.

Motivasi muncul karena adanya kebutuhan, sebagaimana diungkapkan oleh Hook & Vass (2001: 65) bahwa motivasi dapat didefinisikan sebagai kebutuhan atau keinginan dari dalam diri seseorang yang membuatnya tergerak untuk melakukan sesuatu. Motivasi adalah hasil dari tidak terpenuhinya suatu kebutuhan. Motivasi mengandung 3 aspek umum, yaitu usaha, ketekunan, dan arah. Lebih lanjut Lunenburg & Ornstein (2008: 94) menjelaskan bahwa usaha berkaitan dengan besar atau intensitas perilaku seseorang terhadap suatu aktivitas. Ketekunan berkaitan dengan usaha yang terus menerus. Jika usaha dan ketekunan berkaitan dengan kuantitas dari aktivitas seseorang, maka arah mengacu pada kualitas aktivitas yang dilakukan seseorang. Selanjutnya, Schunk, Pintrinch, & Meece (2010: 4) menyebutkan bahwa motivasi belajar dapat dilihat dari ketekunan siswa dalam belajar. Ketekunan dapat diartikan dengan banyaknya waktu yang dihabiskan untuk belajar. Ketekunan ini yang kemudian dapat dijadikan kunci untuk meraih keberhasilan, termasuk dalam pendidikan.

Salah satu tolok ukur keberhasilan pendidikan secara kognitif di Indonesia adalah ujian nasional (UN). Suatu hal yang biasa jika seorang siswa yang berbakat memeroleh skor yang sangat baik dalam UN. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang yang biasa kemampuannya, namun tekun belajar, memeroleh skor tinggi dalam UN. Kasus kedua merupakan kasus yang unik yang dialami seorang siswa di sekolah dasar.

Siswa ini Cici (nama disamarkan atas permintaan yang bersangkutan), seorang siswa yang bersekolah di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Luqman Hakim Internasional (LHI) Yogyakarta. Sekolah ini merupakan sekolah yang menerapkan kurikulum nasional Inggris (British), dengan muatan pelajaran yang lebih sedikit dibandingkan dengan kurikulum nasional Indonesia. Sekolah ini lebih menekankan penguasaan kompetensi mendalam, namun pada proses pembelajarannya siswa ditekankan aktif dan benar-benar membangun sendiri pengetahuannya dengan bimbingan guru.

Permasalahan terjadi ketika siswa harus menempuh ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) dengan menggunakan soal yang dibuat oleh pemerintah provinsi dengan sebagian butir dibuat oleh Puspendik Balitbangdiknas. Meskipun pada dasarnya kompetensi kurikulum British beririsan besar dengan kompetensi nasional, namun untuk matematika ada sedikit masalah. Bilangan bulat yang dipelajari pada kurikulum British hanya sampai 1.000 (seribu), sedangkan pada kurikulum nasional Indonesia sampai puluhan juta. Demikian pula halnya dalam pembelajaan IPA dan bahasa Indonesia. Kurikulum British menekankan penalaran (reasoning), namun pada kurikulum nasional lebih menekankan pengetahuan dan penerapan (knowing dan applying). Juga dalam bentuk penyajian evaluasinya. Hal ini menjadi menyulitkan siswa ketika terbiasa mengerjakan soal essay, yang kemudian mengerjakan soal pilihan ganda.

Untuk mata pelajaran matematika menjadi semakin unik. Pada ujicoba I, akhir semester I kelas VI, rerata perolehan siswa sekitar 4,0. Hal ini mengkhawatirkan orangtua, karena untuk melanjutkan ke SMP, nilai UASBN ini memegang peranan penting dan menentukan siswa diterima atau tidak di SMP yang dicita-citakannya. Selain itu, SDIT-LHI sedang akan mengajukan akreditasi sekolah pertama kali, sehingga pencapaian skor siswa dalam menempuh UASBN ini menentukan pula akreditasi sekolah di masa mendatang.

Pada kasus ini, dideskripsikan keunikan dari kasus seorang siswa bernama Cici yang pada awalnya memeroleh skor try out UASBN 4,25 yang kemudian memeroleh skor 10,0 pada UASBN. Siswa ini yang biasa memeroleh skor matematika 78-95 (skala 0-100) di rapor kelas I-VI semester I dengan penilaian menggunakan bentuk soal essay. Pada kasus ini dideskripsikan keunikan usaha dan perjuangannya, untuk memeroleh pemahaman mengapa siswa ini sampai memeroleh skor 10,0 dari try out pertama 4,25.

 

Metode

Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif, untuk memotret keunikan seorang siswa dalam menghadapi UASBN hingga memeroleh skor sempurna. Data dikumpulkan dengan observasi terhadap proses belajar matematika yang dilakukan siswa dalam kelas, dokumentasi perkembangan dan kemajuan hasil tryout, wawancara dengan guru matematika dan siswa. Data dianalisis dengan analisis kualitatif melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

 

Hasil dan Pembahasan

Untuk menjajagi kemampuan dan mengetahui kesulitan siswa dalam persiapan ujian akhir sekolah berstandar nasional (UASBN) 2014, SDIT-LHI mengadakan try out UASBN bagi siswa-siswanya menggunakan soal-soal UASBN 2013. Pada try out ini, untuk mata pelajaran matematika, Cici tidak berhasil menyelesaikan semua soal yang diujikan. Dari 40 butir soal yang diujikan, Cici hanya mengerjakan 25 butir. Dari 25 butir inipun tidak semua benar, hanya 17 butir yang benar. Setelah dikonfirmasikan kepada Cici, ada dua hal yang diperoleh.

“Aku tidak bisa menyelesaikan, aku kalau menghitung lama. Kalau waktunya ditambah, insyaallah aku bisa selesai…. .”

“Aku bingung, selama ini aku biasa mengerjakan soal yang tidak pakai pilihan,…jadi dijawabnya pakai caranya… kalau ada pilihannya jadi membingungkan….”

Dari guru, orangtua memeroleh informasi mengenai kemampuan perkalian siswa, kemudian dicek ulang informasi ini kepada siswa.

“Bu, Cici menghitungnya lama karena belum terlalu hafal perkalian, bu…, dan dampaknya ketika melakukan operasi pembagian, Cici menjadi agak kesulitan…”

Pendapat Cici mengenai hafalan perkalian,”aku tidak terlalu hafal perkalian, tapi aku ‘kan bisa mencarinya dan menghitungnya. Bu Guru selalu mengajarkan kepadaku cara mencari dan menghitung, sehingga tidak harus dihafal. Termasuk rumus-rumus, aku tidak menghafalnya, tetapi aku bisa mencarinya.”

Selanjutnya semasa liburan semester, orangtua memberikan pengertian kepada Cici, “menghafalkan perkalian dan rumus-rumus itu penting, karena dalam mengerjakan soal langsung bisa fokus ke permasalahan dalam butir soal, tidak perlu menghitung perkalian atau membuktikan rumus dulu. Jika menghitung dulu atau mencari rumus dahulu, waktu pengerjaan akan semakin lama, dan akhirnya tidak bisa menyelesaikan soal dengan benar. Jika banyak salahnya, skor yangdiperoleh menjadi rendah.” Selanjutnya orangtua melatih siswa menghafal perkalian dan pembagian, melatih menghitung cepat, dan memahami konsep rumus-rumus matematika dan menghafalnya.

Pada try out yang kedua, guru matematika tetap menggunakan try out dengan soal UASBN 2013 paket lainnya. Pada try out II ini, Cici memeroleh sekor 5,75. Pada try out ini, waktu menjadi permasalahan, karena dari 40 butir, hanya 35 butir yang diselesaikan Cici. Bu Guru kemudian membuat profil kemampuan Cici berdasarkan analisis butir soal tryout. Pada try-out kedua, kesulitan-kesulitan yang dialami Cici dalam mengerjakan soal matematika yakni:

  1. Bilangan bulat dan cacah
  2. Penyelesaian masalah terkait dengn hitung campuran
  3. Penyelesaian masalah terkait dengn bilangan pecahan
  4. Penyelesaian masalah terkait dengn kelipatan persekutuan terkecil dan faktor persekutuan terbesar
  5. Bilangan berpangkat dan penarikan akar
  6. Debit
  7. Menghitung luas bangun datar kompleks (gabungan beberapa bangun datar)
  8. Volume prisma
  9. Rerata data
  10. Rerata diagram batang
  11. Range suatu data

Kesulitan-kesulitan ini disampaikan oleh guru matematika kepada orangtua dan kepada siswa, dalam diskusi orangtua dan guru untuk membahas apa yang telah dilakukan sekolah dan guru, yang telah dilakukan orang tua, dan tindaklanjutnya.

Selanjutnya orangtua merefleksikan cara belajar Cici. Dalam belajar selama ini, Cici akan berhasil jika belajarnya dalam suatu komunitas, dimana ada kerjasama yang positif antar siswa. Orangtua kemudian membuat komitmen dengan Cici, bagaimana mengupayakan, tetap menguasai matematika namun ketika menempuh UASBN hasilnya juga baik.

Cici mengusulkan, “bagaimana jika aku belajar dengan mbak Naning? Aku punya guru lain lagi selain bu guru Fifi dan Ummi?” Orangtua menyetujui, dengan syarat belajar dengan mbak Naning dengan serius. Mbak Naning adalah mahasiswa, yang mempunyai komunitas untuk mendiskusikan pelajaran matematika dengan anak-anak di sekitarnya.

Cici adalah anak yang suka bertanya. Mengenai kesulitan belajar dan perolehan skor yang rendah, Cici bertanya kepada Bu Guru Fifi maupun orangtuanya. Kemudian orangtua dan bu Guru Fifi menceritakan pengalamannya, selanjutnya Cici mengambil sikap.

“Ibuku sebenarnya tidak pandai, namun rajin belajar. Karena rajin belajar, sampai-sampai sering menjadi juara di sekolah, bahkan mencapai nilai tertinggi di kabupaten. Berarti semua orang bisa, ya, termasuk aku, untuk mendapatkan nilai tertinggi…”

“Bu Guru Fifi pernah hampir putus asa karena nilai ulangan sangat rendah, terus mencoba terus dan belajar giat, tidak malas-malas. Jangan puas diri jika dapat nilai yang agak bagus. Jangan mudah menyerah. Semua ujian dari Allah, Allah swt pasti membantu. Bahkan bu Guru Fifi pernah mendapatkan juara di akhir-akhir sekolah, tidak hanya itu ternyata bu Guru Fifi sukses dan bisa mengajar. Ketika SMP pernah ujian dan memeroleh peringkat pertama. Berarti semua orang bisa, termasuk aku, bisa berprestasi asal tidak putus asa. Aku juga bisa.”

Langkah selanjutnya adalah orangtua menindaklanjuti informasi dari bu Guru Fifi mengenai kesulitan Cici dalam belajar. Kesebelas kesulitan diperdalam satu persatu di rumah. Latihan-latihan soal untuk mempercepat kemampuan komputasi dilakukan bersama mbak Naning. Di sekolah, bu Guru Fifi membelajarkan pemahaman konsep yang lebih mendalam termasuk keterampilan dalam mengerjakan soal-soal. Dengan kombinasi belajar bersama tiga orang ini, Cici memiliki pengalaman belajar yang berbeda-beda.

“Mbak Naning mengajarnya sabar. Kalau tidak tahu menjelaskan lagi. Caranya mbak Naning beda dengan caranya bu Guru Fifi. Jika aku lebih mudah menggunakan cara Mbak Naning, aku akan memakai punya mbak Naning. Kadang aku pakai cara bu Guru Fifi kalau aku cocok dengan cara bu Guru Fifi. Kadang aku menggabungkan sendiri cara dari ust Fifi dan ust Naning. Kadang untuk strategi biar cepat dan tidak terlewat, aku memakai caranya ibuku.”

Selanjutnya Cici belajar giat. Semua permainannya dihentikan dahulu. Membaca majalah kesukaannya dan bermain dengan teman dibatasinya sendiri hanya pada hari Minggu. Menonton film kartun hanya dilakukan kalau jenuh belajar. Berdoa dilakukan lebih sering dan juga mohon didoakan oleh orang lain.

Pada try out ketiga, keempat, dan kelima, baik yang diselenggarakan oleh sekolah maupun dinas pendidikan se-kecamatan, waktu pengerjaan sudah tidak menjadi masalah bagi Cici. Misalkan ada butir soal yang kurang dapat dikerjakan atau merasa salah dalam mengerjakan, Cici kemudian membahasnya lagi dengan ibunya, bu Guru Fifi, dan mbak Naning. Pembahasan tidak hanya melulu pada soalnya, namun juga pada pemahaman konsepnya. Kepada ibunya, Cici mempresentasikannya, jika ada yang ragu Cici meminta untuk diluruskan.

Hal tersebut belaku juga untuk try out yang kelima, Cici masih belum dapat menyelesaikan butir soal mengenai debit, gabungan luas berbagai bangun datar, perkalian pecahan, dan selisih bilangan. Pemahaman konsep yang masih salah diulang kembali. Cici berusaha mempresentasikannya, kemudian diperbaiki dan dilatih kembali.

Selain itu Cici berusaha memotivasi dirinya dalam belajar matematika.

“Aku lihat ibuku suka matematika. Terus aku tanya sama ibuku, kalau aku sekarang menyukai IPA, ketika besar mempelajari apa saja dalam IPA. Kata ibuku, belajar IPA itu meliputi fisika, kimia, biologi, dan ilmu bumi dan antariksa. Semua banyak matematikanya. Jadi aku harus belajar matematika biar bisa menguasai IPA.”

Motivasi diperoleh pula dari orang lain, yakni kakaknya maupun dari wali kelasnya.

“Kakakku itu jarang belajar, tapi karena suka matematika, nilai matematikanya selalu tinggi. Berarti kalau aku menyukai matematika, aku bisa mengalahkan kakakku. Kalau aku rajin…..”

“Kata bu Guru Dewi, sekolahku mau dinilai untuk akreditasi, akreditasi itu apa, bu? ……kalau yang dinilai termasuk hasil UASBN, kita berarti harus kerja keras ya….o ya…tadi aku dan teman-temanku sudah bersepakat mau belajar keras agar hasil UASBN sekolah kita bagus….jika sekolah kita dinilai oleh orang lain, sekolah kita harus bagus”.

Hasil yang diperoleh Cici bukan merupakan hal yang terjadi tiba-tiba. Namun hal ini, diperoleh pula dari tahap-tahap sebelumnya. Pada dasarnya secara konseptual semua materi sudah dipelajari secara regular dengan bu Guru Fifi. Mengingat bilangan yang dipelajari nominalnya kecil, masih perlu penyesuaian untuk memeroleh hasil yang bagus. Juga adanya kecemasan yang dirasakan siswa. Hal ini dinyatakan Cici sebagai berikut.

“Sebenarnya aku sudah bisa semua materi, namun bilangannya besar-besar…..Juga karena dalam sekolah biasanya belajar itu harus sampai presentasi, sebenarnya aku sudah bisa semua materi….namun ketika mengerjakan UASBN, aku harus menyesuaikan dan belajar lagi….aku sebenarnya juga takut UASBN karena digunakan untuk mendaftar ke SMP….”

Kecemasan ini dimanfaatkan orangtua untuk memotivasi siswa. Menurut orangtua, dengan belajar giat dan berlatih, seseorang akan menjadi lebih teramppil mengerjakan. Ketika terampil, seseorang akan menjadi tidak takut lagi menghadapi ujian. Jika telah terampil, siap, dan tidak takut ujian, seseorang akan berhasil dalam ujian. Hal tersebut disampaikan kepada anak secara berulang-ulang, jauh-jauh hari sebelum ujian dilaksanakan.

Try out keenam dilaksanakan oleh komunitas mbak Naning. Skor yang diperoleh Cici 9,75 atau salah satu saja dari 40 butir soal. Kesalahan ini pada permasalahan mengenai median, dan Cici mengalami kesalahan dalam komputasi, bukan kesalahan dalam pemahaman konsep. Pada UASBN yang sebesarnya, Cici memeroleh skor 10,0 (betul 40 dari 40 butir). Kemajuan Cici dalam menyiapkan diri menghadapi UASBN digambarkan dalam grafik berikut. Hasil tersebut menunjukkan adanya kemajuan dari tiap try out sampai UASBN..skor mat cici

Gambar 1. Kemajuan Skor Matematika

Data-data tersebut selanjutnya dianalisis sebagai berikut.

Hasil Reduksi Data dan Displai Data Tema Kesesuaian antar Tema Kesimpulan
Cici menghitungnya lama karena belum terlalu hafal perkalian

 

Terbiasa mencari dan menghitung, bukan menghafal, menyebabkan prses pengerjaan yang memerlukan perhitungan menjadi lama Adanya kerjasama orangtua dan guru dan sekolah diperlukan dalam memotret kelemahan belajar siswa memanfaatkan hasil evaluasi sekolah dan menindaklanjutinya untuk kemajuan siswa Faktor yang mempengaruhi prestasi Cici dalam belajar matematika:

Adanya kerjasama orangtua dan guru dan sekolah diperlukan dalam memotret kelemahan belajar siswa memanfaatkan hasil evaluasi sekolah dan menindaklanjutinya untuk kemajuan siswa dan juga kerja keras dan memperbaiki cara belajar, termotivasi baik internal maupun eksternal, kaitan perlunya belajar sekarang untuk masa mendatang sehingga siswa juga belajar giat

Cici terbiasa mencari dan menghitung, bukan menghafal
Guru mengidentifikasi profil kelemahan siswa Kerjasama sekolah, guru, dan orangtua
Orangtua mengerti dan mendukung gaya belajar siswa

Orangtua memotivasi bagaimana memanfaatkan kecemasan

Cici belajar giat dan rajin berdoa Bekerja keras dan memperbaiki cara belajar (termasuk belajar dari orang lain) Bekerja keras dan memperbaiki cara belajar, termotivasi baik internal maupun eksternal, kaitan perlunya belajar sekarang untuk masa mendatang
Cici belajar dari orang lain cara belajar matematika
Memotivasi diri: matematika bermanfaat untuk mempelajari ilmu lainnya

Motivasi diri dari kakak dan keperluan akreditasi sekolah

Perlunya melanjutkan ke SMP

Kisah sukses guru, pembimbing, dan orangtua

Motivasi : internal dan eksternal

 

Berdasarkan hasil analisis tersebut, dapat diperoleh bahwa faktor yang mempengaruhi prestasi Cici dalam belajar matematika adalah adanya kerjasama orangtua dan guru dan sekolah diperlukan dalam memotret kelemahan belajar siswa memanfaatkan hasil evaluasi sekolah dan menindaklanjutinya untuk kemajuan siswa dan juga kerja keras dan memperbaiki cara belajar, termotivasi baik internal maupun eksternal, kaitan perlunya belajar sekarang untuk masa mendatang

Mencermati hal tersebut, hasil studi ini mendukung berbagai pendapat yang telah dinyatakan oleh ahli. Adanya program sekolah yang baik dan terarah sebagai resultan dari kepemimpinan dan manajemen, dukungan guru, dan siswa, dan lingkungan (yang di dalamnya termasuk dukungan orangtua, keluarga, dan masyarakat), sangat menentukan keberhasilan pendidikan. Pada kasus ini bukan hanya seorang siswa berhasil memeroleh skor sempurna dalan UN sebagai prestasi kognitif hasil kerja keras semua pihak, namun juga prestasi afektif. Prestasi afektif tersebut berupa bagaimana membelajarkan seorang siswa untuk menjadi pebelajar yang baik sehingga termotivasi dalam belajar, dibuktikan dengan ketekunan dan minatnya dalam belajar.

Proses pembelajaran merupakan hal yang menentukan prestasi. Penekanan penguasaan konsep dan pemecahan masalah yang telah diprogramkan sekolah, dilaksanakan dalam pembelajaran oleh guru, didukung oleh perhatian orangtua, akan menghasilkan prestasi belajar siswa yang baik.

Penilaian juga merukan hal yang penting. Dengan penilaian, guru dapat memanfaatkan hasilnya untuk perbaikan pembelajaran yang telah dilaksanakannya (washback effect). Siswa dan orangtua dapat mengetahui prestasi belajar siswa dan hambatan yang dialaminya, sehingga dapat mengusahakan suatu perbaikan. Demikian pula, kecemasan siswa dalam menghadapi proses penilaian dapat dimanfaatkan untuk memotivasi siswa.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis, diperoleh bahwa skor sempurna dalam ujian nasional dicapai karena siswa menyadari perlunya belajar dan perlunya pengetahuan yang dipelajari, adanya motivasi dari dalam dan luar diri, kerjasama sekolah, guru, dan orangtua dalam memanfaatkan hasil evaluasi dan memperbaiki pembelajaran untuk siswa, yang menyadarkan siswa untuk bekerja keras dan menjadi pebelajar yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

 

Alessi, S. M. & Trollip, S. R. (2001). Multimedia for learning: methods and development. Boston, MA: Allyn & Bacon.

 

Arthur, J. & Cremin, T. (2010). Learning to Teach in the Primary School (2nd ed.). London: Routledge.

 

Bridge, RR.G., Judd, C.M., & Moock, P.R. (1979). The determinants of educational outcomes. Massachusets: Ballinger Publishing Company.

 

Dai, D. Y. & Stenberg, R. J. (2004). Motivation, emotion, and cognition. Mahwah, NJ: Lawrence Erlbaum Associates, Inc.

 

Djaali. (2011). Psikologi pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.

 

Elliot, S. N., Kratochwill, T. R, Cook, J. L., et.al. (2000). Educational psychology: effective teaching, effective learning. Boston, MA: The McGraw-Hill Companies, Inc.

 

Hook, P. & Vass, A. (2001). Creating winning classroom. London: David Fulton Publishers.

 

Orlich, D. C., Harder, R. J, Callahan, R. C, et al. (2007). Teaching strategies. A guide to effective instruction. Boston, MA: Houghton Mifflin Company.

Ormrod, J. E. (2003). Educational psychology developing learners (4th ed.). Upper Saddle River, NJ: Pearson Education.

Santrock, J. W. (2008). Psikologi pendidikan. (terjemahan Tri Wibowo B. S.) New York: Mcgraw-Hill. (Buku asli diterbitkan tahun 2004).

Schunk, D. H, Pintrich, P. L. & Meece, J. L. (2010). Motivation in education, theory, research, and application. London: Pearson Education Internasional.

Wina Sanjaya. (2011). Strategi pembelajaran berorientasi standar proses pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Woolfolk, A. (2007). Educational psychology (10th ed). Boston, MA: Pearson Education.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>