«

»

Okt 06

Keberfungsian Butir Diferensial

Pengertian Keberfungsian Butir Diferensial

Oleh : Heri Retnawati
Dalam melakukan suatu pengukuran, diperlukan suatu alat ukur yang sahih (valid) dan konsisten (reliabel). Dengan menggunakan alat ukur yang memenuhi kedua kriteria tersebut, akan diperoleh hasil pengukuran ulang sesuai dengan apa yang hendak diukur tanpa terpengaruh faktor-faktor yang lain. Suatu keadaan pada perangkat tes yang dipengaruhi oleh faktor-faktor yang lain, selain yang hendak diukur disebut dengan bias pada suatu tes.
Istilah bias pada suatu tes dan pengukuran merupakan suatu istilah yang tidak baik, mempunyai makna rasial, menekan atau terlalu fanatik dengan objek yang akan diukur (Osterlind, 1983 : 10). Bias dalam suatu tes merupakan suatu kondisi tes yang tidak adil (unfair), tidak konsisten, terkontaminasi oleh faktor-faktor di luar aspek yang hendak di tes, dan kesalahan penggunaan tes. Hal ini menunjukkan bahwa bias dalam tes dan pengukuran mempunyai makna yang tidak mendukung sifat tes yang konsisten dan sahih.
Menurut Osterlind (1983: 11), ada dua pendekatan dalam memaknai istilah bias. Pertama, bias dapat diketahui dengan melihat kegunaan skor tes yang akan diperoleh. Dalam hal ini, kegunaannya dapat disesuaikan dengan tujuannya, seleksi masuk siswa sekolah, seleksi penerimaan karyawan baru, dan berbagai macam program dan pelayanan yang berdasarkan pada suatu tingkat skor tes yang tinggi. Pendekatan ini memerlukan perbandingan hasil tes suatu kelompok dengan beberapa kelompok lainnya sehingga akan terdapat sejumlah bentuk bias dalam seleksi. Pendekatan ini merupakan bias eksternal dalam butir tes.
Pemahaman dari dugaan bahwa suatu tes itu bias merupakan pemahaman bias yang kedua. Pendekatan ini dilakukan dengan melihat butir-butir tes itu sendiri apakah ada yang menyalahi kriteria-kriteria yang telah ditentukan. Melegitimasikan penggunaan suatu tes, agar seluruh peserta memperoleh butir tes yang adil sesuai dengan prestasi atau kemampuannya masing-masing, merupakan suatu permasalahan yang krusial. Oleh sebab itu, tes harus dibuat sedemikian rupa sehingga adanya perbedaan skor tes di antara kelompok-kelompok yang dites, murni disebabkan karena perbedaan dari pemahaman isi tes yang diukur. Dengan mendeteksi dan menghilangkan butir yang bias, diharapkan dapat dibuat tes yang baku. Dari pendekatan ini dikenal dengan bias internal dalam butir.
Dalam tes mental dan bidang psikometri lainnya, istilah bias mempunyai arti khusus. Bias didefinisikan sebagai kesalahan sistematik dalam proses pengukuran, akibatnya akan mempengaruhi seluruh hasil pengukuran. Perubahan pengukuran kadang-kadang akan dapat meningkatkan bias, tetapi kadang-kadang juga akan menurunkannya. Sedangkan menurut Osterlind (1983: 11), bias merupakan suatu istilah teknis dan diartikan sebagai suatu hal yang berkaitan dengan penyimpangan sifat konsistensi suatu statistik.
Beberapa ahli memberikan batasan tentang bias butir, di antaranya Shepard (Adams,1992 : 177) dan Mazor et al. (1995 : 133). Suatu tes dikatakan bias jika dua orang peserta tes dengan kemampuan yang sama, dari kelompok yang berbeda tidak memperoleh peluang menjawab benar yang sama. Dengan demikian butir tes yang tidak bias adalah butir tes yang diharapkan akan memberikan peluang yang sama dalam menjawab benar pada peserta tes yang memiliki kemampuan yang sama dari kelompok yang berbeda. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, ada dua macam bias, yaitu bias eksternal dan bias internal.
Bias eksternal, menurut Osterlind (1983: 10-11), merupakan suatu derajat pada skor tes yang menunjukkan hubungan korelasional dari variabel-variabel bebas suatu tes. Lebih lanjut dikemukakan bahwa permasalahan bias eksternal diantaranya adalah konsekuensi sosial dalam penggunaan tes seperti keadilan dalam penyelenggaraan tes dan kriteria seleksi yang digunakan. Berkaitan dengan hal ini, pihak penyelenggara tes berwenang menyelenggarakan tes dan membuat kriteria seleksi dengan adil. Dengan demikian, yang menjadi perhatian dalam eksternal bias adalah keseluruhan tes (validitas konstrak dan validitas prediktif) baru pada butir-butir tes itu sendiri. Berdasarkan hal ini, bias eksternal bias menitikberatkan pada validitas konstrak dan validitas prediktif dari suatu tes secara keseluruhan.
Adams (1992: 178) menyatakan bahwa bias internal yang juga biasa disebut dengan bias butir merupakan aspek dari bias dalam tes yang berkaitan dengan sifat-sifat psikometrik dari suatu buitr tes dan tes secara keseluruhan. Prosedur pendeteksian item bias difokuskan terutama pada penyelidikan tentang apakah tiap butir tes memiliki kesamaan perilaku, yaitu kesamaan dalam pengukuran sifat-sifat psikometrik. Menurut Osterlind (1983 : 11), suatu tes dikatakan bias jika terdapat bukti adanya interaksi antara anggota kelompok dengan kinerja butir tes, yang mana perbedaan kemampuan atau kondisi psikologis antara kelompok tersebut dikendalikan.
Beberapa ahli psikometri telah melakukan langkah-langkah untuk menghilangkan konotasi yang merendahkan berkaitan dengan istilah bias butir. Istilah yang digunakan untuk mengganti item bias adalah differential item performance (DIP) atau differential item functioning (DIF) (Adams, 1992: 178). Nama baru tersebut mencerminkan tujuan dari metode pendeteksian item bias dalam mengidentifikasikan butir-butir yang mempunyai fungsi berbeda untuk kelompok peserta tes yang berbeda.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML berikut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>